“Sebaik apapun
dia, takkan pernah bisa ditarik implikasi bahwa dia dicap sebagai “Manusia
Dewa”. Langkahnya terukur dengan kedamaian hatinya menjadikan dirinya sebagai
“Manusia Dewa” yang berwibawa. Katanya, seperti diri“bedak Putih” yang tak
tampak hitam sedikit pun. Karena ia berbalik dan bersembunyi dibalik batu kemunafikan.
Wahai “Manusia Dewa” kapan dirimu akan melepas jubah kotor berlumur penuh
kebosanan ? mampukah engkau bertahan hidup tanpa air yang mencoba
menggenangimu, sedangkan disana telah sedikit anak-anak manusia menimbah air
kebenaran. Apakah engkau menunggu “Paku Tuhan” agar engkau berhenti
menginjak-injak mereka ? kenapa kekuasaan dengan berbagai merek “Bedak” engkau pelihara ? bukankah
Dunia ini milik Pemilik Manusia ?. atau Pemilik Manusia telah memberi amanah
untuk engkau memiliki manusia ?. berhentilah, berhentilah, kami merindukanmu”.
Tulisan di atas
adalah sebuah rangkaian kata yang ditujukan untuk mereka yang “Gila” kekuasaan
dengan individualitas sebagai tujuan. Nah, dalam menutupi ego tersebut, mereka
sering menggunakan berbagai politik. Salah satunya adalah politik dengan
pendekatan agama.
Agama yang dijadikan sebagai wadah perpolitikan memang
cenderung lebih besar pengaruhnya. Karena memang realitas fungsi dari agama
adalah memberi kedamaian. Kedamaian hati yang menjadi awal kewibawaan seseorang
ataupun menjadi pembentuk karakter telah mnyedot perhatian para manusia. Dengan
kewibawaan yang terbentuk menjadikan kepercayaan lebih mudah didapatkan.
Sehingga tak jarak politikus memggunakan hal ini demi kekuasaan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar