Jumat, 01 Januari 2016

Kekuasaan ?




“Sebaik apapun dia, takkan pernah bisa ditarik implikasi bahwa dia dicap sebagai “Manusia Dewa”. Langkahnya terukur dengan kedamaian hatinya menjadikan dirinya sebagai “Manusia Dewa” yang berwibawa. Katanya, seperti diri“bedak Putih” yang tak tampak hitam sedikit pun. Karena ia berbalik dan bersembunyi dibalik batu kemunafikan. Wahai “Manusia Dewa” kapan dirimu akan melepas jubah kotor berlumur penuh kebosanan ? mampukah engkau bertahan hidup tanpa air yang mencoba menggenangimu, sedangkan disana telah sedikit anak-anak manusia menimbah air kebenaran. Apakah engkau menunggu “Paku Tuhan” agar engkau berhenti menginjak-injak mereka ? kenapa kekuasaan dengan berbagai  merek “Bedak” engkau pelihara ? bukankah Dunia ini milik Pemilik Manusia ?. atau Pemilik Manusia telah memberi amanah untuk engkau memiliki manusia ?. berhentilah, berhentilah, kami merindukanmu”.

Tulisan di atas adalah sebuah rangkaian kata yang ditujukan untuk mereka yang “Gila” kekuasaan dengan individualitas sebagai tujuan. Nah, dalam menutupi ego tersebut, mereka sering menggunakan berbagai politik. Salah satunya adalah politik dengan pendekatan agama.

Agama yang dijadikan sebagai wadah perpolitikan memang cenderung lebih besar pengaruhnya. Karena memang realitas fungsi dari agama adalah memberi kedamaian. Kedamaian hati yang menjadi awal kewibawaan seseorang ataupun menjadi pembentuk karakter telah mnyedot perhatian para manusia. Dengan kewibawaan yang terbentuk menjadikan kepercayaan lebih mudah didapatkan. Sehingga tak jarak politikus memggunakan hal ini demi kekuasaan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname