Rabu, 12 Oktober 2016

Cerita Berbekas

Suara alami yang sunyi dengan iringan lagu dari tiupan angin menerpa dedaunan. Seperti dalam suasana tenang yang dirasakannya saat ini. Namun kawan jika engkau lihat langsung dirinya engkau akan mengatakn dia gila. Duduk terdiam memikirkan suatu hal yang kawan takkan pernah tahu itu. Tahukah kalian dia saat ini berada di kebisingan malam, tengah malam.

Suara gaduh, suara manusia, kendaraan mewarnai telinganya. Musik pun tak lepas, ditambah Televisi dengan volume tinggi bermain sendirian. semua sibuk pada dirinya masing-masing. bagai tikus yang mencari makan tak hiraukan keluarga bahkan saudara saat bertemu dijalanan. kacau, tapi ia mengatakan damai ? mungkin dia stres kawan. 

Lamanya ia diam, tak lama itupun ia menggerakan jarinya mengetik satu kata demi kata menjadi paragraf yang ternyata isinya berisi tentang kata-kata yang cukup menyedihkan. Ternyata ia mengenang cerita yang pernah ia ukir bersama kwan-kawannya. 

Ia teringat ketika langkah yang begitu pasti meraih yang ia sebut dengan mimpi sang revolusioner. Kawan, ia ingin jadi pemimpin. Menjadi seseorang yang membanggakan cintanya. Ingin mengacaukan pemikiran cintanya. Kau tahu kawan, ia telah mendapat masalah. Ingin membongkar masalah itu, memutuskan suatu batasan. Hingga ia bisa memerdekakan pikiran cintanya. Engkau mungkin tak mngeti bahasaku karena cuma dia yang mengerti kenapa dirinya ingin memerdekakan orang lemah yang pemikirannya telah terkontaminasi oleh ketidakadilan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname