Suara alami yang sunyi dengan iringan
lagu dari tiupan angin menerpa dedaunan. Seperti dalam suasana tenang yang
dirasakannya saat ini. Namun kawan jika engkau lihat langsung dirinya engkau
akan mengatakn dia gila. Duduk terdiam memikirkan suatu hal yang kawan takkan
pernah tahu itu. Tahukah kalian dia saat ini berada di kebisingan malam, tengah
malam.
Suara gaduh, suara manusia, kendaraan mewarnai telinganya. Musik pun tak
lepas, ditambah Televisi dengan volume tinggi bermain sendirian. semua sibuk
pada dirinya masing-masing. bagai tikus yang mencari makan tak hiraukan
keluarga bahkan saudara saat bertemu dijalanan. kacau, tapi ia mengatakan damai
? mungkin dia stres kawan.
Lamanya ia diam, tak lama itupun ia menggerakan jarinya
mengetik satu kata demi kata menjadi paragraf yang ternyata isinya berisi
tentang kata-kata yang cukup menyedihkan. Ternyata ia mengenang cerita yang
pernah ia ukir bersama kwan-kawannya.
Ia teringat ketika langkah yang begitu
pasti meraih yang ia sebut dengan mimpi sang revolusioner. Kawan, ia ingin jadi
pemimpin. Menjadi seseorang yang membanggakan cintanya. Ingin mengacaukan
pemikiran cintanya. Kau tahu kawan, ia telah mendapat masalah. Ingin membongkar
masalah itu, memutuskan suatu batasan. Hingga ia bisa memerdekakan pikiran
cintanya. Engkau mungkin tak mngeti bahasaku karena cuma dia yang mengerti
kenapa dirinya ingin memerdekakan orang lemah yang pemikirannya telah
terkontaminasi oleh ketidakadilan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar