Mahasiswa itu juga
sama halnya dengan Wiro Sableng, katanya penumpas kejahatan dan pembela kebenaran. Dengan kapasitas berpikir Mahasiswa, mereka mampu menyelah diantara dua batu himpitan dalam mengungkap apa yang seharusnya terjadi. Kapasitas berpikir ini terbentuk dari pola pengkaderan orang tua, masyarakat, organisasi ataupun lingkungan. Hal ini biasanya terjadi pada mahasiswa aktivis organisasi, tipe mahasiswa yang seperti ini lebih dekat dengan rakyat, ataupun memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Dalam oganisasi,
umumnya mahasiswa berpemikir maju biasa ditemukan di organisasi. Dengan
tujuan-tujuan tertentu mereka masuk organisasi misalnya mencari sekawan,
senasib dan setujuan. Mencari sekawan yang sama dari daerah biasanya memasuki
organisasi dari daerah. Organisasi ini menampung mahasiswa dari daerah yang
sama, dengan tujuan membangun daerah mereka, membangun pola pikir dan
menjadikan mahasiswa bisa berprestasi ataupun berguna di mata masyarakatnya.
Organsiasi daerah
biasanya bukanlah sebuah organisasi formal, akan tetapi pengaruh yang besar
dari organisasi ini lebih banyak daripada organisasi lain, karena di organisasi
ini menampung banyak nilai-nilai etika dalam bersosialisasi. Tapi kenyataannya
mahasiswa yang masuk organisasi daerah jumlahnya cenderung sedikit. Karena
mungkin persoalan dari sisi akdemik, atapun hasil dari organisasi tersebut
terkesan buruk dimata masyarakat.
Etika yang
terbentuk dari hasil pengkaderan organisasi daerah sangat berpengaruh kepada
diri pribadi mahasiswa dalam memasuki dunia baru, yaitu dunia yang berkaitan
dengan pola berpikir dewasa. Dan inilah yang menjadi titik tolak Perbedaan
antara mahasiswa akademisi dengan mahasiswa organisasi, mereka yang masuk
organisasi cenderung lebih aktif, daripada mahasiswa akademisi.
Akan tetapi yang
jauh lebih penting adalah menggabungkan keduanya, akademisi dan organisasi.
Artinya seorang anak organisasi yang mampu menerapkan teori yang ia dapatkan
dari organisasi dimasukkan kedalam proses akademisi. Jika kedua hal ini di
gabungkan perubahan cenderung lebih lambat namun hasilnya sangat jauh lebih
baik. Mereka yang menggabungkan kedua hal ini akan memilki jiwa petualangan
hidup yang sesungguhnya, mencari impian berkorban untuk masyarakat, ditambah
segudang prestasi.
Namun mahasiswa
cenderung berfikir bahwa tidaklah mungkin menggabungkan keduanya, artinya
haruslah ia berfokus pada organisasi atau akademis dan tidak pada keduanya. Hal
itulah yang menyebabkan mahasiswa yang masuk organisasi terkadang lama
menyelesaikan masa studinya.
Jika paradigma
berpikir ini diubah, maka bukan tidak mungkin menjadi seorang yang memiliki
prestasi dan juga organisasi mampu di raih. Yang paling utama lagi orang tua
kita akan bangga. Kebanyakan mahasiswa mungkin berpikir bahwa yang dibutuhkan
orang tua hanyalah mampu atau bisa berguna dimatanya, mata masyarakat dan
dimata lingkungan bahkan negara ataupun bangsa, sebenarnya orang tua itu punya
harapan besar ingin menjadikan anaknya memiliki derajat yang tinggi disertai
rasa kepedulian terhadap sosialnya.
Artinya dengan
prestasi yang lebih tinggi dari harapan mereka itu jauh membahagiakan orang
tua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar