Jumat, 01 Januari 2016

Akademisi VS organisasi


Mahasiswa itu juga sama halnya dengan Wiro Sableng, katanya penumpas kejahatan dan pembela kebenaran. Dengan kapasitas berpikir Mahasiswa, mereka mampu menyelah diantara dua batu himpitan  dalam mengungkap apa yang seharusnya terjadi. Kapasitas berpikir ini  terbentuk dari pola pengkaderan orang tua, masyarakat, organisasi ataupun lingkungan. Hal ini biasanya terjadi pada mahasiswa aktivis organisasi, tipe mahasiswa yang seperti ini lebih dekat dengan rakyat, ataupun memiliki kepekaan sosial yang tinggi.

Dalam oganisasi, umumnya mahasiswa berpemikir maju biasa ditemukan di organisasi. Dengan tujuan-tujuan tertentu mereka masuk organisasi misalnya mencari sekawan, senasib dan setujuan. Mencari sekawan yang sama dari daerah biasanya memasuki organisasi dari daerah. Organisasi ini menampung mahasiswa dari daerah yang sama, dengan tujuan membangun daerah mereka, membangun pola pikir dan menjadikan mahasiswa bisa berprestasi ataupun berguna di mata masyarakatnya.

Organsiasi daerah biasanya bukanlah sebuah organisasi formal, akan tetapi pengaruh yang besar dari organisasi ini lebih banyak daripada organisasi lain, karena di organisasi ini menampung banyak nilai-nilai etika dalam bersosialisasi. Tapi kenyataannya mahasiswa yang masuk organisasi daerah jumlahnya cenderung sedikit. Karena mungkin persoalan dari sisi akdemik, atapun hasil dari organisasi tersebut terkesan buruk dimata masyarakat.

Etika yang terbentuk dari hasil pengkaderan organisasi daerah sangat berpengaruh kepada diri pribadi mahasiswa dalam memasuki dunia baru, yaitu dunia yang berkaitan dengan pola berpikir dewasa. Dan inilah yang menjadi titik tolak Perbedaan antara mahasiswa akademisi dengan mahasiswa organisasi, mereka yang masuk organisasi cenderung lebih aktif, daripada mahasiswa akademisi.
Akan tetapi yang jauh lebih penting adalah menggabungkan keduanya, akademisi dan organisasi. Artinya seorang anak organisasi yang mampu menerapkan teori yang ia dapatkan dari organisasi dimasukkan kedalam proses akademisi. Jika kedua hal ini di gabungkan perubahan cenderung lebih lambat namun hasilnya sangat jauh lebih baik. Mereka yang menggabungkan kedua hal ini akan memilki jiwa petualangan hidup yang sesungguhnya, mencari impian berkorban untuk masyarakat, ditambah segudang prestasi.

Namun mahasiswa cenderung berfikir bahwa tidaklah mungkin menggabungkan keduanya, artinya haruslah ia berfokus pada organisasi atau akademis dan tidak pada keduanya. Hal itulah yang menyebabkan mahasiswa yang masuk organisasi terkadang lama menyelesaikan masa studinya.

Jika paradigma berpikir ini diubah, maka bukan tidak mungkin menjadi seorang yang memiliki prestasi dan juga organisasi mampu di raih. Yang paling utama lagi orang tua kita akan bangga. Kebanyakan mahasiswa mungkin berpikir bahwa yang dibutuhkan orang tua hanyalah mampu atau bisa berguna dimatanya, mata masyarakat dan dimata lingkungan bahkan negara ataupun bangsa, sebenarnya orang tua itu punya harapan besar ingin menjadikan anaknya memiliki derajat yang tinggi disertai rasa kepedulian terhadap sosialnya.

Artinya dengan prestasi yang lebih tinggi dari harapan mereka itu jauh membahagiakan orang tua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname